Sabtu, 17 Juli 2010

Kisah Para Nabi Allah

Nabi Sulaiman As
Sulaiman (bahasa Arab:سليمان) (sekitar 975-935 SM)[1] merupakan anak Nabi Daud Sejak kecil lagi baginda telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran. Ia wafat di Rahbaam, Baitul Maqdis-Palestina. Pernah memutuskan perkara antara dua orang yang berselisih, yaitu antara pemilik kebun dan pemilik kambing
Genealogi
Sulaiman bin Daud bin Aisya bin Awid dari keturunan Yahuza bin Ya'qub.
Biografi
Raja segala makhluk
Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan rasul. Setelah Sulaiman cukup umur dan ayahandanya wafat, Sulaiman diangkat menjadi raja di kerajaan Israil. Ia berkuasa tak hanya atas manusia, namun juga atas binatang dan makhluk halus seperti jin dan lain-lain. Baginda dapat memahami bahasa semua binatang
Istana Nabi Sulaiman sangat indah. Dibangun dengan gotong royong manusia, binatang, dan jin. Dindingnya terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga, atapnya dari perak, hiasan dan ukirannya dari mutiara dan intan, berlian, pasir di taman ditaburi mutiara, dan sebagainya.
Kisah Sulaiman dengan Jin dan Binatang
Nabi Sulaiman dianugerahkan Allah kebijaksanaan sejak remaja. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan, termasuk mampu berbicara, memahami dan memberi arahan terhadap jin dan hewan sehingga semua makhluk itu mengikuti kehendaknya.
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman dan keduanya mengucapkan; segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dan banyak hambanya yang beriman. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata; Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua ini benar-benar satu anugerah yang nyata.”
Kebijaksanaan Sulaiman dapat dilihat melalui berbagai peristiwa yang dilaluinya. Misalnya, beliau coba mengetengahkan ide kepada bapaknya, Nabi Daud a.s bagi menyelesaikan perselisihan antara dua pihak, yaitu antara pemilik kebun dan pemilik kambing.
Walaupun ketika itu usianya masih muda, pendapatnya bernas. Mulanya Nabi Daud memutuskan pemilik kambing supaya menyerahkan ternaknya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi disebabkan ternaknya memasuki dan merusakkan kebun itu. Sulaiman yang mendengar keputusan bapaknya menyelanya: “Wahai bapakku, menurut pandanganku, keputusan itu sepatutnya berbunyi; kepada pemilik tanaman yang telah musnah tanaman diserahkanlah kambingnya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi keperluannya. “Manakala tanamannya yang binasa itu diserahkan kepada pemilik kambing untuk dijaga sehingga kembali kepada keadaan asal. Kemudian masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau menderita kerugian lebih daripada sepatutnya.” Pendapat yang dikemukakan Sulaiman disetujui kedua pihak. Malah khalayak ramai yang menyaksikan perbicaraan itu kagum dengan kebolehan beliau menyelesaikan perselisihan terbabit.
Bertitik tolak daripada peristiwa itu, kewibawaan Sulaiman semakin tersebar dan ia juga sebagai bibit permulaan kenabian Sulaiman. Melihat kecerdasan akal yang ditonjolkannya itu, Nabi Daud menaruh kepercayaan dengan mempersiapkannya sebagai pengganti dalam kerajaan Bani Israel. Namun, abangnya Absyalum tidak merelakan beliau melangkah lebih jauh dalam hiraki pemerintahan itu, malah mendakwa dia yang sepatutnya dilantik sebagai putera mahkota kerana Sulaiman masih muda dan tidak berpengalaman. Absyalum mau mendapatkan tahta itu dari bapak dan adiknya. Justru, dia mulai menunjukkan sikap baik terhadap rakyat, dengan segala masalah mereka ditangani sendiri dengan segera, membuatkan pengaruhnya semakin meluas.
Sampai satu ketika, Absyalum mengistiharkan dirinya sebagai raja, sekaligus merampas kekuasaan bapaknya sendiri. Tindakannya itu mengakibatkan huru-hara di kalangan Bani Israel. Melihatkan keadaan itu, Nabi Daud keluar dari Baitul Maqdis, menyeberangi Sungai Jordan menuju ke Bukit Zaitun. Tindakannya itu semata-mata mau mengelakkan pertumpahan darah, namun Absyalum dengan angkuh memasuki istana bapanya. Di Bukit Zaitun, Nabi Daud memohon petunjuk Allah supaya menyelamatkan kerajaan Bailtul Maqdis daripada dimusnahkan anaknya yang durhaka itu. Allah segera memberi petunjuk kepada Nabi Daud, yaitu memerangi Absyalum. Namun, sebelum memulai peperangan itu, Nabi Daud berpesan kepada tentaranya supaya tidak membunuh anaknya itu, malah jika boleh ditangkap hidup-hidup. Bagaimanapun, kuasa Allah melebihi segalanya dan ditakdirkan Absyalum mati juga kerana dia mau bertarung dengan tentara bapaknya.
Kemudian, Nabi Daud kembali ke Baitul Maqdis dan menghabiskan sisa hidupnya selama 40 tahun di istana itu sebelum melepaskan takhta kepada Sulaiman. Kewafatan Nabi Daud memberikan kuasa penuh kepada Nabi Sulaiman untuk memimpin Bani Israel berpandukan kebijaksanaan yang dianugerah Allah. Ia juga dapat menundukkan jin, angin dan burung, sehingga dapat disuruh melakukan apa saja, termasuk mendapatkan tembaga dari perut bumi untuk dijadikan perkakasan.
Firman Allah bermaksud: “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman yang perjalanannya pada waktu petang, sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian daripada jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpan antara mereka daripada perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”
Ratu Balqis tunduk kepada Sulaiman
Setelah membangunkan Baitul Muqaddis, Nabi Sulaiman menuju ke Yaman. Tiba di sana, disuruhnya burung hud-hud (sejenis pelatuk) mencari sumber air. Tetapi burung berkenaan tiada ketika dipanggil. Ketiadaan burung hud-hud menimbulkan kemarahan Sulaiman. Selepas itu burung hud-hud datang kepada Nabi Sulaiman dan berkata: "Aku telah terbang untuk mengintip dan terjumpa suatu yang sangat penting untuk diketahui oleh tuan..."
Firman Allah, bermaksud: "Maka tidak lama kemudian datanglah hud-hud, lalu ia berkata; aku telah mengetahui sesuatu, yang kamu belum mengetahuinya dan aku bawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
"Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah..."
Mendengar berita itu, Nabi Sulaiman mengutuskan surat mengandungi nasihat supaya menyembah Allah kepada Ratu Balqis. Surat itu dibawa burung hud-hud dan diterima sendiri Ratu Balqis. Selepas dibaca surat itu, Ratu Balqis menghantarkan utusan bersama hadiah kepada Sulaiman. Dalam al-Quran diceritakan: "Tatkala utusan itu sampai kepada Nabi Sulaiman, seraya berkata; apakah patut kamu menolong aku dengan harta?
"Sesungguhnya apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikannya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
"Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi tawanan yang tidak berharga."
Utusan itu kembali ke negeri Saba dan menceritakan pengalaman yang dialami di Yaman kepada Ratu Balqis, sehingga dia berhajat untuk berjumpa sendiri dengan Sulaiman. Keinginan Ratu Balqis untuk datang itu diketahui Nabi Sulaiman terlebih dulu. Beliau segera memerintahkan seluruh tentaranya yang terdiri dari manusia, haiwan dan jin untuk membuat persiapan bagi menyambut kedatangan Ratu Balqis. Nabi Sulaiman kemudian menitahkan untuk memindahkan singasana Ratu Balqis ke istana beliau. Adalah Ashif bin Barqoyya dari golongan manusia menyanggupi untuk melaksanakan titah tersebut dengan kecepatan angin. Ifrit dari golongan jin, menyanggupi untuk membawa singasana itu bahkan sebelum mata menutup ketika berkejap. Begitulah akhirnya singgasana Ratu Balqis dibawa oleh Ifrit ke dalam istana Nabi Sulaiman lebih cepat dari kejapan mata. Manakala Ratu Balqis tiba, ia ditanya oleh Sulaiman: "Seperti inikah singgahsanamu?" Dengan terperanjat, Ratu Balqis menjawab: "Ya, memang sama apa yang seperti singgahsanaku" Kemudian Ratu Balqis dipersilakan masuk ke istana Nabi Sulaiman. Namun, ketika berjalan di istana itu, sekali lagi Ratu Balqis terpedaya, karena menyangka lantai istana Sulaiman terbuat dari air, sehingga ia menyingkap kainnya.
Firman Allah yang bermaksud: Dikatakan kepadanya; masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia (Ratu Balqis) melihat lantai istana itu, dikiranya air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.
Berkatalah Sulaiman; "sesungguhnya ia istana licin yang diperbuat daripada kaca". Berkatalah Balqis; "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman dan kepada Allah, Tuhan semesta alam."
Peristiwa itu menyebabkan Ratu Balqis berasa sangat aib dan menyadari kelemahannya, sehingga dia memohon ampun atas kesilapannya selama ini dan akhirnya dia diperisterikan oleh Nabi Sulaiman.
Kewafatan Baginda
Kisah Sulaiman dan tentaranya yang terdiri daripada manusia, hewan dan jin dalam menjalankan dakwah Allah terhadap Ratu Balqis. Kematian beliau berlainan dengan manusia biasa. Nabi Sulaiman wafat dalam keadaan duduk di kerusi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memperhatikan jin yang bekerja.
Firman Allah: "Tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka setelah kematiannya itu melainkan rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, nyatalah bagi jin itu bahawa sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam seksa yang menghinakan."
 Taubat Nabi Seulaiman AS
Nabi Sulaiman adalah seorang yang banyak berperang. Beliau melakukan peperangan baik di darat maupun di laut. Suatu ketika beliau mendengar ada seorang raja di sebuah pulau di seberang lautan. Berangkatlah Sulaiman dengan berkendaraan angin disertai oleh bala tentaranya yang terdiri dari jin dan manusia. Setelah sampai, mereka pun turun dipulau tersebut, lalu membunuh rajanya dan menawan semua penduduknya dan memboyong seorang gadis yang kecantikannya dan keindahannya belum pernah beliau lihat. Dia adalah putri raja tersebut. Lalu Sulaiman memilihnya untuk dijadikan istri.
Nabi Sulaiman menemukan sesuatu yang tidak ia temukan pada yang lain dan kecintaan beliau kepadanya juga melebihi kepada semua istrinya.
Suatu hari Nabi Sulaiman masuk menemuinya, istrinya itu berkata, "Aku teringat pada ayahku, kerajannya dan peristiwa yang menimpanya,sehingga membuatku selalu sedih. Jika engkau berkenan sudilah kiranya memerintahkan sebagian setan untuk membuat patung ayahku dirumahku ini, agar aku dapat menatapnya pagi dan sore, dengan harapan akan menghilangkan kesedihanku dan menjadi terhibur kembali."
Maka Sulaiman memerintahkan Shakhr al-Madrid. Lalu ia membuat patung yang benar-benar pas dengan sosok ayahnya, hanya saja tidak bernyawa. Patung itu diletakkan pada salah satu sudut rumahnya. Sang istri lalu mendatangi patung itu kemudian menghiasinya dan mengenakan pakian padanya, hingga sama seperti keadaan ayahnya. Ketika Nabi Sulaiman pergi keluar rumah, sang istri segera mendatangi patung itu bersama para dayang dan kemudian menaburkan wewangian. Selanjutnya, sang
istri bersujud yang diikuti oleh dayang-dayangnya. Sulaiman as sendiri tidak mengetahui apa yang dilakukan istrinya, hingga hal itu berlangsung selama 40 hari.
Dan akhirnya kabar itu sampai kepada orang-orang dan didengar pula oleh Ashif bin Barkhaya, sahabat karib Nabi Sulaiman as. Ashif bin Barkhaya segera menghadap dan berkata, "Wahai Nabi Allah! Aku sungguh senang berada ditempat dimana aku dapat mengingat kembali para Nabi
Allah pada masa lalu dan memuji mereka sesuai dengan yang saya ketahui tentang mereka." Lalu Nabi Sulaiman mengumpulkan orang-orang.
Ashif bin Barkhaya pun lalu berdiri dihadapan mereka unutk menceritakan kisah para Nabi Allah, memuji setiap Nabi sesuai yang ia ketahui, dan menyebutkan pula karunia yang telah Alllah berikan
kepada mereka, hingga berakhir pada Nabi Sulaiman. Beliau menyebutkan karunia da keutamaan yang telah Allah limpahkan kepadanya pada masa kecil dan pada masa muda belianya, kemudian Ashif diam, tidak melanjutkan ceritanya. Hal itu membuat Nabi Sulaiman murka.
Beliau segera masuk ke ruangannnya dan mengutus seseorang untuk membawa Ashif menghadapnya. Beliau berkata, "Wahai Ashif! Engkau telah sebutkan kisah para Nabi Allah dan memuji mereka sesuai dengan yang mereka lakukan pada zamannya secara keseluruhan. Akan tetapi
ketika engkau menceritakan kisahku, kau hanya memujiku dengan kebaikan dimasa kecilku dan meninggalkan kisahku saat aku usia lanjut. Apa sebenarnya yang telah kulakukan di usia lanjutku ini?"
Ashif menjawab, "Engkau telah melakukan sesuatu yang baru, yakni selain Allah ada yang disembah di dalam rumahmu sejak 40 hari yang lalu dibawah pimpinan seorang wanita." Nabi Sulaiman berkata, "Dirumahku?" "Ya dirumahmu," jawab Ashif. Nabi Sulaiman mengucap. "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!" Sekarang aku tahu, tidaklah engkau mengatakan sesuatu kecuali bersumber dari sesuatu yang telah disampaikan kepadamu."
Kemudian beliau pulang dan menghancurkan patung itu, serta menghukum sang istri dan dayang-dayang yang mengikutinya. Lalu beliau meminta
agar diambilkan pakaian yang bersih untuk dikenakannya, dan keluar menuju sebuah tanah lapang. Di atas hamparan debu beliau menghadap Allah SWT bertobat, dan memohon ampun. Beliau duduk bersimpuh diatas hamparan debu itu merendahkan diri sambil menangis serta memohon
ampun kepada Allah dengan berkata, "Wahai Tuhanku! Cobaan apa ini
yang telah engkau timpakan kepada keluarga Daud as, dimana mereka
menyembah selain Engkau? Di rumah mereka bersama keluarganya telah
disembah selain Engkau!"
Nabi Sulaiman tetap bertahan dengan apa yang telah dilakukannya itu
hingga menjelang sore, setelah itu barulah beliau pulang ke rumah.
Pada saat itu belia mempunyai seorang dayang yang bernama Aminah.
Apabila Nabi Sulaiman hendak buang air besar atau menunaikan hajatnya
dengan salah seorang istrinya, ia selalu menitipkan cincinnya kepada
Aminah. Ia tidak mau menyentuh cincin itu kecuali dalam keadaan suci.
Allah telah menjadikan kekuatan kerajannya pada cincin tersebut. Pada
suatu hari ia hendak berwudu, maka ia menyerahkan cincin itu kepada
Aminah.
Tiba-tiba datanglah Shakhr al-Madrid mendahului Sulaiman as masuk
ketempat wudu. Nabi Sulaiman sendiri masuk ke kamar kecil untuk buang
air. Lalu keluarlah setan (Shakhr al-Madrid) dalam bentuk rupa Sulaiman, mengibas-ngibaskan jenggotnya dari air wudu. Sedikit pun tidak ada yang menduga bila dia bukan Nabi Sulaiman. Kemudian dia
berkata, "Mana cincinku, Aminah!" Aminah segera memberikannya dan sama sekali tidak menduga bahwa itu bukanlah Sulaiman as. Lalu ia kenakan cincin itu di tangannya dan segera pergi menuju singgasana Nabi Sulaiman as. Di atas singgasana tersebut, dia dikelilingi oleh
sekawanan burung, jin, dan manusia. Keluarlah Nabi Sulaiman dan berkata kepada Aminah, "Mana cincinku?" Aminah bertanya, "Siapakah engkau ini?" "Aku ini Sulaiman bin Daud," jawab Sulaiman. Saat itu Nabi Sulaiman sudah berbah dari keadaan semula dan hilang pula
kewibawaannya. Aminah berkata, "Kau dusta! Sesungguhnya Sulaiman
telah mengambil cincinnya dan dia sekarang sedang duduk di singgasana
kerajaannya." Maka tahulah Sulaiman bahwa dia telah melakukan kesalahan.
Kemudian pergilah Nabi Sulaiman as meninggalkan istananya karena khawatir akan dirinya, hanya dengan mengenakan sehelai baju dan kain sarung beliau pergi tanpa peduli tidak memakai alas kaki dan songkok.
Akhirnya beliau melewati sebuah rumah di pinggir jalan pada saat merasakan kepayahan karena lapar,dahaga, dan kepanasan. Beliau mendatangi rumah itu dan mengetuk pintunya. Maka keluarlah seorang perempuan dan berkata, "Ada perlu apa?" "Aku mau bertamu sebentar,"
jawab belia. "Engkau saksikan sendiri aku sedang kepanasan. Kedua kakiku terbakar dan aku sangat kelaparan dan kehausan," kata Nabi Sulaiman lagi. Wanita itu berkata, "Suamiku sedang tidak ada di
rumah, dan aku tidak bisa menerima tamu laki-laki asing. Pergilah kekebun, di sana ada air dan buah-buahan. Engkau boleh memakan buah-buahannya dan mandi, mendinginkan badan. Nanti apabila suamiku telah datang aku akan meminta izinnya menerimamu sebagai tamu. Bila suamiku mengizinkannya engkau boleh bertamu dan jika tidak toh engkau telah
mendapatkan rezeki dari Allah [makanan dan minuman] dan engkau boleh
pergi."
Nabi Sulaiman pun masuk ke kebun lalu mandi. Setelah mandi beliau merendahkan dirinya hingga tertidur. Namun ada lalat
yang mengganggunya. Tiba-tiba datanglah seekor ular hitam mengambil sebatang ranting pohon raihanah (kayu yang wangi) dari kebun itu dengan mulutnya mendekati Sulaiman, lalu mengusir lalat itu
dengannya. Hal itu terus dilakukan hingga datanglah suami wanita itu.
Sang istri pun bercerita tentang perihal tamu asing itu. Si suami segera menemui Sulaiman. Ketika melihat seekor ular dan apa yang sedang dilakukannya, segera ia memanggil istrinya dan berkata, "Kemarilah, lihatlah keajaiban ini!" Lalu sang istri turut menyaksikannya. Kemudain keduanya berjalan mendekati Sulaiman dan membangunkannya. Setelah itu keduanya berkata, "Wahai pemuda! Ini
adalah rumah kami. Kami tidak akan melakukan sesuatu pun yang memberatkanmu. Dan ini putriku, akan kujodohkan denganmu." Putrinya
itu adalah wanita tercantik dizamannya. Akhirnya Sulaiman menikahinya
dan tinggal bersama mereka selama tiga hari. Kemudian ia berkata, "Aku harus mencari pekerjaan demi kehidupanku dan istriku."
Berangkatlah Nabi Sulaiman untuk menemui orang-orang yang biasa
berburu. Belia berkata kepada mereka, "Apakah engkau semua masih
membutuhkan seseorang untuk membantu kalian, sehingga dari hasil buruan anda dapat memberikan sedikit upah kepadanya. Setiap orang akan Allah bagikan rezekinya masing-masing?" Mereka berkata, "Kami sudah tidak berburu lagi. Kami juga tidak mempunyai sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu." Kemudain beliau pergi menemui yang lainnya.
Beliau berkata kepada mereka seperti perkataannya yang semula. Maka
mereka menjawab, "Ya, dengan senang hati kami akan membantumu dengan
apa yang ada pada kami."
Nabi Sulaiman tinggal bersama mereka dan setiap malam beliau datang menemui istrinya dengan membawa hasil buruan. Hingga akhirnya orang-orang mengingkari keputusan pengadilan Sulaiman [palsu] dan tindakannya. Ketika si jahat (Shakhr al-Madrid) mengetahui bahwa semua orang telah mengenalinya, dia pun pergi ,meninggalkan istana dan
membuang cincin itu ka laut. Shakhr al-Madrid telah mengenakan cincin itu selama 40 hari.
Diceritakan bahwasanya dia telah menduduki kursi Nabi Sulaiman as dan
dikelilingi oleh jin,mnusia, dan setan-setan. Dia telah menguasai segala sesuatu yang telah dimiliki Nabi Sulaiman as, kecuali istri-istinya yang tidak ia kuasai. Sementara Sulaiman as meminta-minta,
mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Dan pernah beliu mendatangi suatu rumah, di depan pintu, dihadapan sepasang suami istri, beliau berkata, "Berilah aku makanan, aku adalah Sulaiman bin Daud." Mereka
malah mengusirnya seraya berkata, "Apa yang membuatmu berdusta atas
nama Sulaiman?" Padahal beliau kini sedang duduk di singgasana
kerajaannya. Demikianlah seterusnya, hingga beliau kepayahan dan
benar-benar menderita dimana cobaan semakin berat. Ketika telah genap
40 hari, Ashif berkata, "Wahai orang-orang Bani Israil! Apakah kalian dapat merasakan kebijaksanaan yang telah dilakukan oleh putra Daud, seperti yang kurasakan?" Mereka menjawab, "Ya." Ketika Sakhr al_madrid mengetahui hal itu, ia segera pergi dan melemparkan cincin
tersebut ke laut. Cincin itu disambut oleh seekor ikan dan ditelannya. Ikan itu lalu merasakan seolah-olah perutnya terbakar
karena pancaran cincin itu. Kemudian ikan itu terbawa arus air dan terperangkap pada jaring para pelaut, termasuk Nabi Sulaiman as. Pada sore harinya mereka membagi-bagi ikan. Nabi Sulaiman mendapatkan
bagian yang menelan cincin itu.
Beliau segera pulang menemui istrinya, dan menyuruhnya memasak ikan itu. Tatkala sang istri membelah perut ikan itu, seketika rumah menjadi terang karena pancaran cahaya cincinnya. Si istri segera
memanggil Sulaiman dan memperlihatkan cincin tersebut. Lalu Sulaiman mengenakan cincinnya itu dan langsung bersujud kepada Allah seraya berkata, "Tuhanku! Hanya untuk-Mu lah segala puji atas berlalunya
cobaan-Mu dan kebaikan-Mu atas keluarga Daud. Tuhanku! Engkau telah memberikan beberapa nikmat kepada mereka (keluarga Daud) dan Engkau juga telah mewariskan kepada mereka al-Kitab, dan kenabian. Hanya untuk-Mu lah segala puji. Tuhanku! Engkau telah berbuat murah kepada yang besar dan mengasihi terhadap yang kecil. Hanya untuk-Mu lah
segala puji. Nikmat-Mu telah muncul dan tidak akan samar lagi. Nikmat itu begitu banyak sehingga tidak dapat dihitung. Hanya untuk-Mu lah segala puji. Tuhanku! Engkau tidak membiarkan aku karena kesalahanku. Hanya untuk-Mu lah segala puji. Engkau tidak menghinakan aku dengan sebab kesalahanku. Hanya engkaulah yang berhak dipuji. Tuhanku!
Sempurnakanlah nikmat-Mu kepadaku, ampunilah kesalah-kesalahanku yang
telah lalu, dan berikanlah aku kerajaan yang tidak mungkin dimiliki orang sesudahku. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah SWT, "Sesungguhnya kami telah menguji Sulaiman dan kami jadikan [dia] tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh [yang lemah karena sakit]
kemudian dia bertobat." (QS. Shad: 34)
Diriwayatkan oleh Ikrimah bahwa ketika Sulaiman telah mendapatkan kembali kerajaannya, maka beliau memerintahkan agar membawa semua penghuni rumah itu dan mempersilakan mereka duduk ditengah-tengah kerajaannya. Ia tidak pernah mendapatkan wanita itu sebelum Allah mengembalikan kerajaan kepadanya.
**) Para ulama menyatakan bahwa cerita tentang kisah cincin dan penyembahan patung dirumah Sulaiman as adalah sebagian dari kebohongan-kebohongan ahlul kitab. Oleh karenanya al-Hafizh Ibn
Katsir mengatakan di dalam tafsirnya, "Kisah ini telah diceritakan
secara panjang lebar oleh sekelompok salaf (terdahulu), seperti:
Sa'id bin al-Musayyab, Zaid bin Aslam, dan kelompok lain. Dan semuanya diambil dari cerita-cerita ahlulkitab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar